Langsung ke konten utama

Postingan

Hafara, Bukan Bimbel Biasa (7 Alasan Kamu Pilih Bimbel Hafara)

Bimbingan Belajar Sebagai Sarana Pendidikan Non Formal Bimbingan Belajar atau biasa disingkat dengan Bimbel adalah bagian dari pendidikan nonformal  sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2013  Tentang Pendirian Satuan Pendidikan Non Formal.
Sesuai dengan aturan ini, maka pendidikan nonformal dapat diartikan sebagai jalur pendidikan diluar pendidikan formalyang dapat dilaksanakan secara terstruktur danberjenjang.

Pada dasarnya, bimbel menjawab kebutuhan orang tua dan siswa akan tingginya tuntutan dunia pendidikan. Khususnya pada kebutuhan kelulusan Ujian Nasional, juga kelulusan pada seleksi penerimaan mahasiswa baru saat akan memasuki jenjang pendidikan perkuliahan. Meski secara umum, bimbel juga diharapkan dapat membantu siswa untuk menambah pemahaman dari materi yang belum tuntas di sekolah.
Gak Bimbel Gak Keren Era sekarang, yang ditunjang dengan begitu canggih…
Postingan terbaru

BeCeTe : Bina Cita Terpadu

Haruskah kubuat cerita. Tentang tawa renyah yang mengudara. Saat gerak-gerik mengunyah gorengan yang luput dari mata, lalu jadi bahan tawa. "Weeww.. sepiring gini abis sendiri?" Kelakar saya.
"Bener-bener artis yang merakyat. Menyantap nikmat makanan dari yang paling mewah sampe yang paling meriah." Sahut pemilik suara di ujung sana.
Lalu gelak kami bersahutan. Terfokus pada tampang kece di samping kiri saya. Idola kawula muda. MC cetar membahana. Artis nesyenel, kalo kata Kak Sat. Sang juara aneka rupa ajang tarik suara, pun pencarian bakat dan kompetisi pemilihan duta. Tak percaya? Tengok saja IG-nya @parias_tsp. Tapi lihatlah. Disampingnya, tergolek sepiring gorengan yang hanya menyisakan pisang goreng setengah. #Tercyduk dehh. Hehe.
Raker (rapat kerja) bidang studi ini memang tak melulu bicara materi bahan ajar dan Micro Teaching. "Saya ini dateng kesini cuma pengen ketemulah ama temen-temen ini. Kakak-kakak semua. Ketawa bareng. Sharing bareng. Hee. Makanya…

Degan Bakar : Hangat dan Penuh Khasiat

Well, ini postingan pertama saya setelah sekian lama tak mengunjungi blog ini. Blog yang niat awalnya dibuat agar rajin nulis. Eh ternyata istiqomah itu emang gak gampang. Sedikit curhat yaa.. Hee. 
Btw, sekarang saya lagi ikutan kelas Ngeblog Seru yang dikelola Mbak Naqi, salah satu founder Tapis Blogger. Di kelas ini, kita dapet materi dasar tentang ngeblog, juga sharing ilmu dari peserta lainnya. Oya, kelas ini memakai WhatsApp Group (WAG) sebagaimana kelas-kelas materi online yang sekarang lagi ngetren. 
Nah, kami diberi tugas pertama untuk membuat artikel bertemakan kuliner. "Boleh apa saja, nanti akan di-review," ujar Mbak Naqi sebagai mentor kami. Akhirnya, setelah membuat beberapa alternatif ide, saya pilih degan bakar sebagai sajian spesial. 
Sepulang kerja sore ini, saya bergegas menuju lokasi. Tempatnya tepat di samping kiri Chandra Kemiling. Cusss.. Alhamdulillah, warungnya buka. Asap putih mengepul dari tempat pembakaran degan. Buat saya makin penasaran, bertanya-t…

Berburu Seru di Taman Kupu-kupu

Di hari Kamis, tepat di libur Hari Raya Waisak pekan kemarin, kami menjadwalkan untuk berkumpul. Atas usul rekan kami, Heny Dwi Sari, kami sepakat untuk mengunjungi Taman Kupu-Kupu Gita Persada. Sebuah kawasan konservasi kupu-kupu yang berlokasi di daerah Kemiling. Taman ini sendiri digagas oleh pasangan Ir. Anshori Djausal, M.T., sosok arsitek, dosen, seniman, juga pemerhati lingkungan, dan Dr. Herawati Soekardi, seorang ahli Biologi yang meraih gelar doktor dari Institut Teknologi Bandung. Nama "Gita" yang disematkan pada nama taman ini sendiri berasal dari nama anak ke-3-nya, Gita Paramita Djausal, yang kini menjadi dosen di jurusan Hubungan Internasional Universitas Lampung. 
Perjalanan kami diawali dengan berkendara motor dari rumah masing-masing. Berkumpul di rumah Heny, lalu menuju lokasi. Untuk mencapai taman ini tidak terlalu sulit rasanya. Karena jalan yang menuju tempatnya tidak banyak percabangan. Bisa melalui arah Telukbetung melewati area Wira Garden atau dari…

Hafara, Narasi Sebuah Mimpi

Teman. Kupinjam sebentar kenangan bersama kalian. Sesuatu yang memang layak dikenang. Saat kita bersama memilih membangun sebuah mimpi. Sesuatu yang masih absurd. Tak nyata. Hanya dalam dekapan angan. Tapi kita yakin. Itulah jalan yang harus ditempuh. Empat tahun lalu.
Teman. Kita tak memiliki banyak waktu kala itu. Satu hari berlalu bagai detik-detik yang bergerak cepat. Sedangkan pikiran kita seolah justru melambat. Saat harus ada satu kata yang disepakati bersama. Karena masa depan tak lagi bisa menunggu. 
Ya. Kita himpun semua yang kita punya. Kita kerahkan tenaga dan pikiran yang mampu kita keluarkan. Kita pusatkan hanya pada satu tujuan. Sebuah nama untuk kita bersama. Kelahiran bayi mungil, yang akhirnya diberi nama, Hafara.
Nama itu muncul justru di last minute. Saat-saat terakhir. Ketika nama yang disiapkan masih menuai ragu. Hingga akhirnya. Sepotong cinta orang tua menjadi jalan kelahirannya. Dikirim dari sosok yang penuh kelembutan, Ratih Latifafuri. 
Sebuah nama yang lah…

Payung-payung

Benda apa yang paling anda paling ingat atau butuhkan saat musim hujan datang? Sebagian besar pasti menjawab payung. Payung yang bisa menjaga kita dari basah jika hujan datang.
Payung diletakkan di atas. Kita genggam erat. Karena saat hujan mungkin saja angin kencang datang menerbangkannya. 
Walau payung sekarang juga dipakai saat cuaca panas, tapi rasanya masih lebih relevan bahwa fungsi utamanya tetap di saat musim hujan. Lihat saja, ojek payung, seperti di kantor saya, selalu muncul hanya saat musim hujan. 
Mengapa payung penting? Ya, karena payung bisa menghindarkan kita dari basah. Lalu apa pentingnya kalau kita tidak basah? Banyak hal tentunya. Ada yang mudah sakit ketika kehujanan, tentu payung menjaganya agar tidak sakit. Ada yang tidak ingin bajunya basah karena sedang menuju acara penting; rapat, tempat kerja, pesta pernikahan, atau mungkin menonton film favorit bersama kawan-kawan.
Ada juga kita tak ingin basah karena membawa sesuatu yang penting, dokumen kerja misalnya. B…

Catatan Aksi 112 (Bagian Tiga --Habis): Uluran Tangan-tangan Kebaikan di Sepanjang Jalan

Perjalanan pagi itu dimulai. Selepas hujan deras yang membasahi bumi Jakarta, kami berlima meninggalkan masjid Nurul Falah di komplek PLN itu. Beriringan satu-satu melintas di bawah awning yang berdiri sepanjang gerbang hingga mendekati masjid. Menuju jalan raya untuk bergabung bersama rombongan lain yang nampak di kejauhan.
Rombongan demi rombongan peserta aksi mengular di jalanan. Mayoritas berpakaian putih-hitam. Membawa spanduk, mengibarkan bendera, melantunkan shalawat, hingga mengomandokan takbir yang menggema. Dan baru saja keluar dari gerbang komplek PLN itu, saya sudah menjumpai momen yang sebelumnya hanya cerita dari teman-teman yang hadir di aksi 212. Nyata di depan mata.
Seorang laki-laki berdiri dengan jas hujannya yang berwarna hijau. Membawa sekotak roti di tangannya yang terbuka. Senyumnya segar dihias rintik air yang membasahi wajahnya. Diambilnya roti-roti itu untuk diberikan kepada peserta aksi yang lewat.
Ah, ternyata bukan dia saja. Beberapa laki-laki lain berdir…