Malam Tahun Baru Bersama Ustadz Abdul Somad

Malam Tahun Baru Bersama Ustadz Abdul Somad


Malam Tahun Baru Bersama Ustadz Abdul Somad – Malam Tahun Baru 2018 ini pastinya banyak dinanti oleh masyarakat dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Tentu banyak acara yang sudah direncanakan jauh hari oleh masing-masing kita.

Apakah itu mengikuti acara di luar rumah dengan berbagai macam tawaran menariknya, atau berkumpul bersama keluarga sembari saling bercengkerama dan bercerita. 

Hotel, restoran, kafe, mall, termasuk tempat wisata tentu sudah berlomba-lomba untuk menyuguhkan acara spektakuler menyongsong pergantian tahun 2017 ini. Hingga menampilkan bintang tamu papan atas untuk mejaring pengunjung menikmati malam tahun baru di lokasi yang telah disulap dengan wah. Hasilnya, tempat-tempat seperti itu selalu penuh sesak dengan pengunjung.

Namun, tak sedikit juga yang tidak memiliki agenda secara khusus menjelang pergantian tahun ini. Atau memang menyengaja tidak ikut merayakan tahun baru ini dikarenakan banyak hal. Karena merayakan tahun baru juga memunculkan perbedaan pendapat tersendiri akhir-akhir ini.

Hal ini selain tak lepas dari banyaknya kegiatan di malam tahun baru yang identik dengan kegiatan hura-hura, tak sesuai dengan nilai-nilai budaya timur, banyak kegiatan tak bermanfaat, cenderung berlebih-lebihan, juga dikaji tidak sesuai dengan nilai syariat.

Apalagi sebagian ulama berpendapat tentang tidak bolehnya tasyabuh atau meniru budaya dari orang-orang non muslim. Dimana perayaan tahun baru yang merupakan perayaan pergantian tahun Masehi dinisbatkan bukan merupakan ajaran Islam. Hal ini membuat perayaan tahun baru semakin dikritisi dari banyak sisi. 

Meski begitu, sebagian mengambil jalan pertengahan dengan mengisi pergantian tahun dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Misalnya, mengisi dengan berzikir bersama di masjid, mengadakan kegiatan muhasabah atau instropeksi diri, juga diskusi akhir tahun sebagai refleksi diri atau lembaga. Sebuah alternatif yang seringkali dipilih agar ada acara yang lebih bermanfaat. 

Tahun ini, bagi yang memilih kegiatan tahun barunya di rumah atau tidak merayakan tahun baru, ada alternatif lain yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah melalui pergantian Malam Tahun Bersama Ustadz Abdul Somad.

Ustadz kondang yang akhir-akhir ini menjadi sorotan dan perbincangan khalayak ramai. Baik pesona dakwahnya yang luar biasa, keilmuannya yang mendalam, kerendahan hati dan penampilannya, hingga kontroversi atas penolakan ceramah dan dakwahnya di Pulau Bali dan Hongkong.

Dikabarkan dari beberapa hari ini bahwa Ustadz Abdul Somad akan memberikan tausyiah pada malam Tahun Baru 2018 di acara Indonesia Bertasbih yang diselenggarakan oleh TV One. Bahkan Ustadz Abdul Somad sendiri memberikan testimoni melalui videonya yang viral beredar, agar seluruh masyarakat mengikuti acara ini dengan antusias.

Acara penuh nasehat dan nilai-nilai kebiakan ini sendiri akan dimulai tepat pada pukul 21.00 Wib dengan berlokasi di Jakarta Islamic Centre, Jakarta Utara. Tapi menurut keterangan dari M. Agung Izzulhaq, produser dari acara Indonesia Bertasbih ini, Ustadz Abdul Somad tidak menyampaikan tausyiah secara langsung. Melainkan sudah disiapkan rekaman khusus yang memang sudah diambil oleh tim redaksi untuk acara ini.

Selain Ustadz Abdul Somad, Indonesia Bertasbih ini juga akan banyak dihadiri oleh ulama lainnya. Sebagaimana telah tersebar masif di jejaring media sosial, akan hadir secara live Syekh Ali Jaber, KH. Syarif Rahmat, Habib Nabiel Al Musawa, juga Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) yang film Ayat-Ayat Cinta 2-nya sedang booming di bioskop-bioskop Indonesia. Serta ulama-ulama lainnya yang sudah dipastikan hadir di acara ini.

Tentunya acara Malam Tahun Baru Bersama Ustadz Abdul Somad dan para ulama lainnya ini akan memberikan sentuhan makna tersendiri di akhir Tahun 2017 dalam menyambut pergantian tahun menuju Tahun 2018. Karena setiap kita harusnya bisa menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Seperti yang disampaian oleh Rasulullah Saw, bahwanya mereka orang-orang yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Sepotong Makna Rezeki Pada Sepiring Kecil Kue Terakhir Sesi Coffee Break

Sepiring Kecil Kue | dokumentasi pribadi

Rezeki. Dalam konteks keyakinan, rezeki mungkin mirip sepiring kecil potongan kue terakhir di atas meja ini. Apa pasal?

Pagi ini memang tak sempat sarapan. Biasa, karena sukanya buru-buru kalau mau ada acara. Plus sedang berniat pula mengurangi asupan kalori (sambil mengingat program diet yang selalu gagal). "Toh ada kue coffee break kan pasti nanti di acara." Yakin banget ya. Hee.

Saat memasuki sesi coffee break setelah pembukaan acara, saya berbincang asyik dengan sosok inspiratif yang saya kagumi melalui tulisan-tulisan menggugahnya yang banyak di-posting di akun FB. Postingan yang mengundang banyak komentar bernada pujian.

Siapa dia? Namanya Tri Sujarwo Songha, pemilik akun IG @tri27sujarwo (monggo di-follow hee), yang sedang ditunggu oleh khalayak ramai karya bukunya tentang kisah haru dan inspiratif saat mengajar anak-anak Papua. Kebetulan beliau sedang di Lampung karena bertepatan dengan satu minggu jadwal liburnya.

Asyik berbicara, tak sadar acara inti akan segera dimulai. Maka setelah mengakhiri pembicaraan yang belum tuntas, saya bergegas ke tempat coffee break yang telah disediakan panitia. “Eh, lho, kok tinggal satu.” Mata saya menatap nanar sebuah piring kecil yang berisikan dua potong kue di atas meja. Wkwk.

Lekas saya tawarkan dengan sopan, "Silakan kak Jarwo?" Memberikan kesempatan kepada orang lain terlebih dahulu tentu satu hal yang baik.  "Oh, enggak, saya sudah kok tadi." Jawab beliau lugas dan menenteramkan pergolakan di dalam perut saya. :D *kidding

Tetiba dalam hati terbetik, mungkin ini yang namanya rezeki. "Meski hanya tersisa satu. Jika itu sudah tertulis hakmu, takkan tertukar." Mengapa masih tersisa satu? Kok cuma satu sedang kami berdua? Atau kok masih bisa tersisa hanya satu? Muncul pertanyaan-pertanyaan dari dalam diri. Hmm. Hal yang terasa lebay dan remeh ini memberikan sentuhan tersendiri dalam kalbu saya.

Makna yang manis, yang saya bungkus diam-diam. Hal kecil yang lucu yang makin terdramatisir dengan tulisan ini. Ya meski sebenernya “gak gitu-gitu” amat, tapi tetap, ada petikan hikmah yang tersimpan dalam.

Rezeki, yang lebih sering dipersepsi dengan sesuatu yang bernilai ekonomi (seperti tema yang diusung pada diskusi akhir tahun ini). Uang, gaji, penghasilan tambahan, “seseran” atau juga jabatan. Bukan sesuatu yang salah, tapi tentu ada hal-hal yang lebih mendasar jika kita menilik dalam tentang makna rezeki yang sesunggugnya. :’)

-
26/12/2017

Yes! I'm Happy!

Yes! I'm Happy!
Yes! I'm Happy! | Dokumentasi Pribadi

Yes. I'm Happy! Jujur. Menang itu rasanya senang tak berbilang. Riang bukan kepalang. 

Di sore itu, selepas sholat Ashar di masjid kantor. Saya sedang ayik berbincang dengan seorang teman. Tetiba, ada notif masuk dari akun IG @nuliseuy yang membuat saya terkaget. Tumben.

Ada apakah gerangan? Wah, jangan-jangan. Hee. Tak berapa lama, muncul tag dari akun IG @nulisyuk, yang sedang saya ikuti kelas menulis online-nya. Waduh, sepertinya benar. Makin sumringah dah :D

Jeng jeng. Saya buka satu-satu akun yang me-mention dan men-tag itu. Dan benarlah praduga itu. Alhamdulillah, terpilih sebagai salah satu dari empat pemenang challenge #motivatorterbaik yang diadakan oleh akun IG @nulisyuk. Wuuiihh. Senangnyaaa.

Lebay kali yah. Haha. Tapi beneran saya senang bukan kepalang. Gak bisa nyembunyiinnya. Saat pulang kantor, riang itu masih lekat membayang. Bahkan gerimis di sepanjang perjalanan itu pun tak mampu melunturkan rasanya. #aseek

Senangnya itu bukan hanya karena kita menang. Tapi lebih karena kita mau mencoba dan bisa ikut berkompetisi. Berjuang, lalu mendapatkan apresiasi. Sebagai buah hati, #ehh buah perjuangan maksudnya. Hingga di ujungnya kita bisa bilang, "Ternyata aku bisa!" Sembari menyungging senyum :')

Cocok mungkin buat tipikal plegmatis seperti saya, yang kata orang, butuh kompetisi kalo mau maju. Belajar menantang diri sendiri, juga masuk dalam lingkaran teman-teman yang produktif. Agar semakin terpacu dan melaju.

Dan, akhirnya, hadiah itupun datang. Melalui pesan singkat dari admin Kantor Pos a.n. Ervina. Aah, senangnya. Saat membuka bungkus paket berwarna coklat yang beratnya 495 gram itu. 

Isinya. Waaww. Satu buah buku #aboutlove Tere Liye, dan satu buku "Motivator Terbaik adalah diri sendiri," karya @nulisyuk #KBMO12. Aaakkk, ada logo Nulis Yuk-nya di sanaaa.

Lalu terbayang suatu saat saya menjadi bagian dari buku itu, sebagai salah satu penulisnya :') heuumm. *mimpi yang indah di senja yang hampir tenggelam. Bangun! Bangun! 

"Teriak pengen nerbitin buku. Diminta nyicil naskah, nulis setiap hari, tapi bilangnya sibuk, gak sempet. Kak, kakak sehat? Sips!" Tetiba kata-kata keras Kak Jee di kelas materi itu menampar kesadaran saya. :D

Tapis Blogger Gathering : Serunya Ngeblog Sebagai Hobi, Profesi dan Ruang Berbagi

Pembukaan Tapis Blogger Gathering | Dokumentasi Pribadi

Minggu, 17 Desember 2017. Hari libur yang dinantikan karena akan ada acara keren dan full manfaat. Yaps. Tapis Blogger Gathering namanya. Acara ini diadakan oleh komunitas Tapis Blogger untuk para anggotanya dan juga terbuka untuk umum. “Menjadikan Ngeblog Sebagai Hobi, Profesi, dan Ruang Berbagi,” begitulah tema yang diusung pada acara ini.

Acara yang diselenggarakan di Secret Garden Foodcourt, Jalan Zainal Abidin Pagar Alam, diisi oleh tiga narasumber yang sangat mumpuni di bidangnya. Kalau istilah para bloger, mastah. Ada Naqiyyah Syam, Heni Puspita, yang keduanya merupakan founder Tapis Blogger. Dan pemateri ketiga adalah Agustinus Leandro, salah satu mastah blogger Lampung yang sudah menggeluti dunia blogging sejak tahun 2006.

Sejak pagi hari, Mbak Naqi, saya biasa memanggilnya seperti itu, sudah woro-woro ke para peserta untuk bersiap-siap untuk acara ini. Memberi reminder agar peserta tidak terlambat dan mempersiapkan acara dengan baik. Nah, saya termasuk nih yang punya kebiasaan telat. Makanya diingetin seperti ini sangat membantu buat saya.

Peserta Tapis Blogger Gathering | Dokumentasi Pribadi

Pukul 07.00 Wib saya sudah mulai bersiap termasuk kelengkaan alat yang perlu dibawa, seperangkat netbook plus kabel terminal untuk menyambung ke sumber arus listrik. Saya sampai menjelang waktu acara yang dijadwalkan, sekitar pukul 08.30 Wib. Beberapa panitia tampak sedang mempersiapkan ruangan dan peralatan di bagian depan. Sebagian peserta yang sudah hadir sudah memilih tempat duduk masing-masing.

Meski sempat terlambat beberapa saat karena kendala teknis, acara tetap hangat dan meriah dengan dibuka oleh Kak Yoga, penulis Novel Begal Cinta, yang sudah tak asing lagi. Cuap-cuap menyapa peserta dan membukanya dengan memberikan kesempatan kepada dua orang Tapis Blogger untuk menyampaikan testimoni, membuat acara ini menjadi terasa akrab dan tak berjarak.

Ummi Nenny, mengawali testimoni tentang Tapis Blogger. Ustadzah sekaligus penulis yang telah berhasil mendidik anak-anaknya menjadi penghafal Al-Quran ini menceritakan tentang perkenalannya dengan Tapis Blogger dan bagaimana memulai ngeblog. Selanjutnya, Wawan Setiawan, sosok muda nan enerjik, yang juga merangkap sebagai panitia, memberikan kesan-kesannya tentang Tapis Blogger.

Setahun lalu Wawan berinteraksi dengan Tapis Blogger, lalu mulai serius dengan dunia blogging, dan dalam dua bulan, situs yang dikelolanya sudah berhasil mendapatkan full approved dari Google Adsense. Selain itu, tak ketinggalan berbagai manfaat yang didapatkannya saat mengikuti berbagai aktifitas juga tawaran sponsorship melalui Tapis Blogger ini.

Dan akhirnya, kita memasuki acara inti, yang langsung menghadirkan tiga pemateri di atas, Mbak Naqi, Mbak Heni, dan Mas Lean. Masing-masing memaparkan penjelasan yang lugas dengan spesifikasi tema yang berbeda.

Mbak Naqi fokus dengan membangun blog sejak awal hingga menjadi blog produktif yang bisa menghasilkan uang, sedangkan Mbak Heni lebih banyak menjelaskan bagaimana membuat desain blog yang menarik untuk pemula. “Saya kagum dengan teman-teman saya yang sudah lebih dari sepuluh begitu telaten merawat blog-nya.” Ujar beliau saat menyampaikan materi.

Banana Foster Cake | Dokumentasi Pribadi

Dalam jeda materi, kita diberikan kesempatan untuk belajar mengambil foto sebuah produk. Ini juga penting bagi seorang blogger, karena foto bisa menjadikan sebuah artikel tersaji dengan lebih menarik. Foto pertama yang saya ambil adalah foto cake Banana Foster.

Hmm, nyummy rasanya. Bukan cuma di foto, tapi juga di lidah. Karena kita juga diberikan potongan cake ini untuk dinikmati sebagai cemilan sebelum makan siang.

Ell's Coffee | Dokumentasi Pribadi


Selanjutnya saya mengambil gambar produk El's Coffee yang merupakan produk dari pengusaha asli Lampung. Nah, buat para blogger, kopi juga jadi salah satu teman terbaik saat menuntaskan tulisan yang kadang mandeg di tengah jalan.

"Kopi. Teman terbaik saat sendiri atau bersama. Saat sedang berdialog dengan hati, atau ngobrol bareng teman-teman dengan penuh canda tawa," begitu kutipan yang saya upload di akun instagram. Hee.

Ryan Adam Maulana (Aktivis - Relawan Kemanusiaan Suriah) | Dokumentasi Pribadi

Oya, ada bintang tamu loh di acara ini. Kita kedatangan Ryan Adam Maulana, seorang aktivis dan relawan kemanusiaan Suriah. Kak Ryan berbagi tentang pengalamannya berada langsung di perbatasan Syiria (Suriah) dan Turki, untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan disana, khususnya anak-anak.

"Saya ingin membagi pengalaman saya, dan menyampaiakan bagaimana kondisinya di sana, khususnya bagaimana memberikan edukasi kepada anak-anak yang terdampak krisis kemanusiaan," begitu kata Kak Ryan. Kita jadi haru, karena dengan banyak kreativitasnya dalam melakukan penggalangan dana melalu akun media sosial, Kak Ryan bisa mengumpulkan donasi diatas 100 juta rupiah. Bukan angka sedikit kan.

Dan akhirnya, kita masuk ke pengujung acara Tapis Blogger Gathering ini. Langsung praktek dengan menulis di blog masing-masing. Acara ini bukan hanya seru, tapi juga penuh manfaat. Bisa bertemu dengan teman-teman yang memiliki banyak pengalaman di bidangnya. Membuat semangat untuk terus menulis dan serius mengurusi blog kembali menguat. Ahirnya, ayo terus belajar, terus menimba ilmu, terus berlatih. Jadikan ngeblog sebagai hobi, profesi dan ruang berbagi. :')

Bersuaralah Kata-kata

Bersuaralah Kata-kata
Bersuaralah Kata-kata | Dokumentasi Prbiadi

Benar katamu. Hujan tak menghalangi. Ia hanya membasahi. 

Seperti sore ini. Pemilik jiwa-jiwa tulus itu memilih diam tak beranjak. Memilih sabar tak melangkah. Memilih bersama derai hujan yang membasahi.

Lihatlah. Ada yang berpayung. Bermantel hujan. Atau lebih suka berbasahan. Menikmati hujan yang mengantarkan keberkahan. Saat pintu langit terbuka. Bagi doa-doa untuk saudara kita di Palestina.

Di panggung orasi. Hujan justru menyemangati.
Maka bersuaralah kata-kata.
Untuk membuat dunia tahu bahwa Palestina ada. 
Maka bersuaralah kata-kata.
Untuk membuat dunia mengerti bahwa Palestina tak sendiri.

Boleh Amerika menganggap dirinya negara digdaya. Tapi ada saatnya kelak, kedigdayaan akan bertekuk lutut di hadapan tekad yang membaja. 

Siapa yang menyangka kisah Raja Abrahah dengan pasukan gajahnya, berakhir di tangan si kecil Ababil? Sebuah tanda bahwa kuasa manusia hanyalah secuil.

Kita lihat nun jauh disana. Anak-anak kecil dengan bongkahan batu di tangan mungil mereka. Tak gentar meski berhadapan dengan gas air mata, senapan serbu dan tank baja. 

Dan kita di sini. Patut belajar atas keberaniannya. Mari kepalkan tangan. Mari bajakan tekad. Mari bersama suarakan kata-kata. 

Suara lantang atas pembelaan terhadap tanah para syuhada, bumi para ambiya. Atas kemanusiaan yang dipinggirkan dengan pongah.

12/12/2017

Memilih Tak Menyerah

Suasana Tes | Dokumentasi Pribadi

Waktu bergerak cepat. Detik-detik bagai berlarian kencang. Begitupun menit yang berjingkatan riang.

250 soal, 180 menit. Benar-benar tes yang menguji banyak hal. Kecepatan, ketepatan, kesabaran, mental dan daya tahan. Dan satu hal yang tak saya prediksi, tingkat kesulitan soal yang diatas rata-rata.

Saya sudah membaca dan berlatih dengan empat buku berbeda. Mempelajari teorinya, mengerjakan latihan soalnya, juga melakukan simulasi Try Out real-nya. Tapi semua seolah tak ada arti.

Sejak soal bagian pertama, pipi saya seperti ditampar bolak-balik. Semakin mengerjakan, semakin keras tamparannya.

Benteng mental saya seperti dilontari batu-batu besar menggunakan mangonel. Meninggalkan lubang menganga dan remuk sana-sini.

Memasuki bagian kedua, soalnya lebih "gila". Kesulitannya dua-tiga kali dari latihan. Meninggalkan banyak bulatan kosong di lembar jawaban.

Ambrol keyakinan saya pada titik nadir. Ditengah waktu yang berhitung mundur, justru saya berhenti dan meratapi diri, "Begini rasanya jadi orang bodoh."

Hanya menatap deretan soal dengan pandangan kosong, "Untuk apa dilanjutkan jika kita tahu akan gagal?"

Disaat kepala terasa makin berat, saya berkontemplasi. Menenangkan diri, mengumpulkan semangat yang tercabik-cabik. Menyalakan lagi api mimpi yang padam.

"Takdir belum tertulis, sebelum waktu mengerjakan soalmu habis." Begitu saya berkata pada diri.

Bismillah, saya menguatkan tekad. Kalah atau menang, tugas kita adalah berusaha. Berhasil atau gagal, berjuang sampai akhir tetaplah pilihan terbaik.

Memasuki bagian ketiga, banyak soal yang bisa saya kerjakan. Saya tersenyum. Terus menyemangati diri sampai waktu hitung mundur yang dimiliki panitia berhenti.

Selesai. Saya pun mengusap lelah sembari menyelipkan doa. "Pilihkan takdir terbaik-Mu, Ya Rabb."

Empat pekan kemudian. Saya meluncur ke sebuah website. Saya download file attachment-nya, lalu ketik keyword "Lampung" di bagian tools pencarian. Dag dig dug rasanya.

Dan saya tak percaya, nama saya muncul. Sembari bersyukur, saya mengirim pesan, "Alhamdulillah mbak, lolos tahap pertama :')"

Nulis Yuk


Dulu, saya ingin menulis untuk menginspirasi orang lain, agar bisa berkarya dan mendapatkan apresiasi. Tapi kini saya menyadari, jarak terdekat yang terdampak dari tulisan saya sebenernya adalah diri saya sendiri.

Dengan menulis, sadar atau tidak, perlahan saya belajar merubah diri sendiri. Belajar memperbaiki diri dari apa yang saya tulis; peristiwa, teman-teman, atau potret yang ada di sekitar.

Dengan menulis, saya juga belajar memberanikan diri bergabung dalam komunitas blogger yang sudah profesional di dunia kepenulisan dan blogging. Bayangkan, saya yang newbie imut-imut ini, ketemu para mastah blogger dan penulis yang bukunya sudah berjejer di Gramedia.

Gugup, gagap, tapi menyenangkan. Ada lega yang melapangkan dada, karena berhasil menaklukkan ketakutan sendiri. Seperti game meniup balon hingga meletus di sebuah sesi training. Semakin besar, semakin takut. Tapi setelah meletus, semua tetap baik-baik saja.

Juga dengan menulis, saat ingin menulis sesuatu yang tidak atau belum banyak tahu, saya jadi banyak belajar untuk mencari referensi. Mau tak mau harus mengalokasikan waktu untuk membaca, juga bertanya sana-sini. Jadi banyak belajar lagi.

Dan kini, dengan menulis, saya berjumpa dengan kelas NulisYuk Batch #4. Ini juga bagian dari cara saya meng-upgrade diri. Terus belajar, juga melawan perasaan kurang pede yang seringkali menjalar bahkan mengakar kuat dalam pikiran saya.

Sentuhan pertama yang dibuat kak @jeeluvina di kelas menulis ini sangat mengena. "Menulis Itu Mudah," judul materi pertama kak @jeeluvina. "Tulis saja apa yang kita rasakan. Tulis saja apa yang kita dengar. Tulis saja apa yang kita lihat. Tulis saja apa yang kita pikirkan. Tulis saja apa yang kita tahu," begitu paparnya singkat, tepat mengenai sasaran.

Saya jadi ingat buku "Fisika Itu Mudah" karangan maestro Fisika, Yohannes Surya. Judul buku yang sangat populer kala itu, karena mampu mendobrak trauma anak-anak SMA akan kerumitan pelajaran Fisika. Meski juga tak seketika langsung menjadi mudah, tapi mampu membuka sudut pandang baru, melihat sesuatu dari cara yang berbeda.

Akhirnya, mari menulis, teman :)

*Dibuat sebagai challange pekan 1 kelas NulisYuk Batch #4 yang diasuh Jee Luvina. Buku Diary Jiwa-nya kini sudah mengisi rapi rak-rak di Toko Gramedia

--
@nulisyuk
@jeeluvina
#nulisyuk
#nulisyukbatch4

Indonesia Bisa, Indonesia Juara (Sepucuk Surat Untuk Membela Indonesia di Tahun 2018)

Owi-Butet "Para Juara" | sumber : www.asiangames2018.id

Apa Rasanya Menjadi Juara?
Apa rasanya menjadi juara? Berdiri di podium yang tinggi. Ditonton berjuta pasang mata yang menatap gembira. Diberi puja-puji sana-sini oleh pembawa acara.

Apa rasanya menjadi juara? Menatap sumringah jejeran medali dan piala, yang sudah menunggu pemiliknya sejak lama. Untuk diserah terimakan dan dibawa pulang dengan penuh bangga.

Apa rasanya menjadi juara? Dalam sorak-sorai dan gegap gempita. Merah putih berkibar gagah di angkasa. Diiringi lagu kebangsaan yang berkumandang syahdu di udara.

Apa rasanya menjadi juara? Terkenal dimana-mana. Diundang Bapak Presiden atau televisi swasta dan berbagai acara. Diliput bertubi-tubi oleh media nasional maupun manca negara.

Apa rasanya menjadi juara? Diidolakan banyak remaja. Dijadikan panutan oleh kawula muda. Dielu-elukan generasi tua. Digandrungi semua usia.

Ilustrasi Latihan Atlet Memanah | sumber : @asiangames2018

Pedih Perihnya Perjuangan Sang Juara
Ada yang selalu mengharu biru saat mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang di ajang internasional. Lagu kebangsaan, juga lagu kebanggaan. Baik kids jaman now maupun kids jaman old.

Menjadi juara tentu tak mudah. Begitupun membuat lagu kebangsaan itu berkumandang di sebuah event internasional. Pastilah penuh perjuangan dalam mempersiapkannya. Peluh, keringat, air mata, latihan yang tak terkira beratnya, dan semua pengorbanan lain yang tak kasat mata.  

Karena sebagai pemirsa, kita biasanya hanya menonton saja. Hanya melihat keberhasilannya saja. Tanpa pernah tahu sekeras apa mereka berlatih, sebanyak apa waktu yang mereka habiskan menuju pertandingan. Untuk akhirnya berhasil mementaskan kebanggaan bangsa di puncak gelanggang. Kebanggaan yang bukan hanya milik satu-dua orang, atau cabang olah raga tertentu, tapi milik semua, milik bangsa Indonesia.

Ilustrasi Kerja Keras Penjaga Gawang | sumber : @asiangames2018

Menjadi juara tentu bukan hanya tentang sorak-sorai atau hadiah dan bonus yang melimpah. Juga bukan hanya tentang sanjungan setinggi langit, kalungan bunga penuh warna di gate bandara, atau karpet merah yang terhampar mewah di sepanjang prosesi penyambutan saat kepulangan berlaga.

Menjadi juara tentu jauh lebih dari itu. Apa yang kita saksikan dari para juara itu, mungkin tak lebih dari secuil gunung es yang nampak di permukaan. Atau seperti sepotong kue lezat yang sudah siap disajikan, tanpa melihat bagaimana racikan bahannya harus pas dan dimasak dengan waktu yang presisi. Mungkin mirip juga dengan batu mulia, yang berkilau indah saat tertimpa cahaya di etalase mewah, tapi tidak tahu bagaimana batu itu ditempa oleh alam dalam waktu yang begitu lama.

Rasanya menjadi juara itu tak melulu yang manis-manis saja. Karena seringkali yang kita lihat adalah hasilnya, bukan proses panjangnya. Kesuksesannya, bukan perjalanan jatuh bangunnya. Kalungan medalinya, bukan rentetan kegagalannya. Sanjungannya, bukan cemoohan dan hujatan yang diterima saat gagal dalam berjuang.

Maka yang sesungguhnya, sisi lain yang dirasakan para juara adalah rasa sakit yang tiada terkira. Beban berat yang tak terukur. Bagaimana mereka menghabiskan waktu berjam-jam per harinya untuk memenuhi target yang ditetapkan. Bahkan ada yang meninggalkan bangku sekolah demi fokus pada satu tujuan, agar kelak menjadi bagian dari para juara.

Logo Resmi Asian Games 2018 | sumber : @asiangames2018

Asian Games 2018, Energi Asia
Dan kini, Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan akbar olah raga se-Asia pada Asian Games 2018 yang akan berlangsung pada 18 Agustus 2018.  Pesta besar negara-negara Asia yang akan mempertandingkan 40 cabang olah raga. Tentu ini akan menjadi panggung tersendiri bagi bangsa Indoensia. Agar mampu menampilkan suguhan yang menarik dan pelaksanaan acara yang baik.

Perhelatan yang pertama kali dimulai di New Delhi ini akan ada di depan mata kita semua. Jutaan pasang mata akan melihat, menatap, menyaksikan dari dekat dan dengan seksama berlangsungnya berlangsungnya setiap event. Dan bukan hanya mendukung para atletnya untuk meraih medali, lebih jauh dari itu, mata Asia bahkan dunia akan tertuju pada pelaksanaan event internasional secara keseluruhan.

Maskot : Bhin-bhin, Kaka dan Atung | sumber @asiangames2018

Oleh karenanya, sebagai tuan rumah, kita tak boleh berdiam. Energi yang kita keluarkan harus jauh lebih besar dari negara lain yang akan datang ke sini. Luapan semangat yang kita ledakkan harus lebih dahsyat dari negara manapun yang akan berlaga. 

Pemerintah, panitia yang diwakili INASGOC (Indonesia Asian Games Organizing Committee), pihak swasta, para atlet dan seluruh masyarakat harus saling mengisi dan berkontribusi. Latar belakang apapun, tidak boleh mengurangi peran kita untuk memberikan yang terbaik. Seperti semangat Bhinneka Tunggal Ika yang diejawantahkan dalam maskot Asian Games 208: Bhin-bhin, Atung dan Kaka.

Venue Stadion Utama Gelora Bung Karno | sumber : @asiangames2018

Venue Olah Raga Cabang Renang | sumber : @asiangames2018

Pembangunan venue-venue yang berkualitas dan memenuhi standar internasional kini sedang dikerjakan oleh pemerintah dan panitia pelaksana. Akses transportasi seperti LRT/MRT yang terkoneksi dengan bandara juga sedang dalam proses penyelesaian. Di sisi lain, masyarakat juga harus mendukung sepenuhnya program ini dengan cara paling sederhana yang bisa dilakukan. Misalnya, mempromosikan ajang ini melalui media sosial dan mengikuti berbagai kegiatan pendahulunya seperti acara Countdown Asian Games 2018 yang telah dilaksankan pada 18 Agustus 2017 lalu.

Sebagai sebuah bangsa yang satu, kita harus mampu mengoptimalkan energi seluruh komponen bangsa, bahu-membahu dan saling bergandengan tangan. Semangat dan kerja keras dalam pelaksanaan event ini harus mampu berpijar dan menyala menjadi Energi Asia yang bergelora. Hingga saatnya nanti akan mampu membangun daya juang para atlet yang bertanding. Penuh semangat berprestasi, menjunjug tinggi nilai persahabatan dan perdamaian antar negera serta menjaga penuh sikap sprotivitas.

Anak-anak Masa Depan Indonesia | sumber : @asiangames2018

Indonesia Bisa, Indonesia Juara
Dua kota besar di Indonesia, Jakarta dan Palembang, akan menjadi saksi sejarah bagi pelaksanaan event internasional yang juga akan menjadi kebanggaan kita semua. Bukan hanya pencapaian prestasi yang harus menjadi concern, tapi juga pelayanan terbaik kepada seluruh yang hadir. Karena seluruh tamu negara, official team dan juga para supporter akan membanjiri ajang ini.

Hal ini tentu menjadi peluang yang baik bagi Indoensia dan warganya. Bukan hanya di bidang olah raga saja, tetapi juga di aspek lainnya. Misal, aspek pariwisata dan ekonomi kreatif. Pelayanan yang baik, akses informasi yang mudah, ketersedian guide/relawan yang ramah, menguasai bahasa asing dan juga rute-rute perjalanan, akomodasi yang memadai, transportasi yang terjangkau, akan  menjadi kunci lain kesuksesan penyelenggaraan ini. Sukses di lapangan, juga sukses di luar lapangan.
Ilustrasi : Berjabat Tangan, Saling Mengisi Peran | sumber : @asiangames2018

Dan disisi yang paling penting, tentunya adalah kesuksesan para atlet tuan rumah dalam meraih medali. Para atlet harus berjuang sekuat tenaga, memberikan kemampuan terbaiknya dalam setiap pertandingan. Mengerahkan segala upaya agar target minimal 10 besar yang telah ditetapkan bisa tercapai bahkan terlampaui. Kita yakin kita bisa. Kita percaya Indonesia bisa.

Bahkan, jika kita mengenang dan belajar akan sejarah kegemilangan pada saat menjadi tuan rumah Asian Games IV tahun 1962, dimana kita mampu berada pada peringkat kedua dalam peraihan medali. Tentunya, ini bisa menjadi motivasi dan optimisme tersendiri dari seluruh komponen bangsa untuk bisa mengulang kejayaan bangsa di ajang Asian Games 2018 ini. 

Para Atlet Bersama Bapak Jusuf Kalla | sumber : @asiangames2018

Tentunya kita sudah tak sabar menyaksiakan gelora semangat anak-anak bangsa yang kini sedang menahan pedih dan perih berlatih dalam persiapannya menuju ajang Asian Games 2018. Untuk itu marilah bersama terus kita dukung dan langitkan doa. Mari kita tunjukkan keragaman bangsa ini dalam keutuhan yang satu. Saling bekerja sama, satu irama, satu tekad kemenangan.

Dan kelak akan tiba saatnya kita bersama meneriakkan, "Indonesia Bisa, Indonesia Juara!"

--
@DJIKP
@KemenKominfo
#DukungBersama
#EnergiAsia
#BelaIndonesia

Susahnya Konsisten Buat Ngisi Blog

Arif Budiman
Judul-judul Konsep Tulisan | Dokumen Pribadi

Salah satu hal paling susah di muka bumi ini memang konsistensi. Kalau dalam bahasa agamanya, istikamah. Suatu sikap atau tindakan yang tetap, tidak berubah-ubah, dan terus berkelanjutan.  Tanpa terganggu oleh mood, cuaca alam, cuaca hati (#eeaa) ataupun kondisi sekitar.

Meski untuk sebuah pekerjaan yang dianggap ringan, konsisten tetap tak mudah. Contohnya ya ini, ngisi blog secara rutin. Kadang sudah buat konsep, eh ada aja alasan hingga tak kunjung lahir sebuah tulisan. Kadang sudah jadi, tapi tak kunjung di-posting, dan akhirnya kehilangan momen. Ini baru ngisi blog loh, bukan disuruh ngisi bak mandi yang perlu usaha ekstra kayak jaman kecil dulu. Hee.

Sejak punya blog setahun lalu (yang bentar lagi ulang tahun pertama #aseek), ternyata baru beberapa artikel yang berhasil di-posting. Dari awalnya ingin nulis setiap hari (saat semangat-semangatnya), berubah menjadi seminggu sekali, eh ternyata gak kesampean juga.

Jadilah ngepost-nya acak-acakan. Semaunya. Kadang rajin, kadang berbulan-bulan dianggurin. Kamu aja kesel kan kalo chat-mu dianggurin meski cuma satu jam, apalagi ini blog dianggurin berbulan-bulan. “Buah anggur, buah apel. Daripada dianggurin, kan mending diapelin.” Ngapelin blog maksudnya. :D

Dengan posting-an berjumlah 23 tulisan, berarti produktivitasnya hanya berkisar 1,92 tulisan (23/12=1,92) setiap bulannya.  Dan jika nanti tulisan ini di-posting, maka genaplah menjadi angka 2 produktivitasnya. Capaian yang cukup buruk untuk yang ingin menjadi seorang blogger yang baik :D

Mungkin memang seperti itu jalan takdir “menyeleksi” siapa yang berhak menggapai kesuksesan. Ada yang bercita-cita tinggi tapi malas berusaha. Ada yang ingin sukses tapi mengeluh tentang proses. Pengen jadi blogger kece, penulis hebat, tapi nulisnya, jika dirata-rata, hanya 2 kali dalam sebulan. Ya bagai bagai pungguk merindukan bulan deh jadinya. Dan itulah guwe. Hehe.

Maka berlakulah meme-meme yang rame di akhir tahun. Seperti sekarang yang sudah memasuki Desember, saat tema resolusi sedang ngehitz. “Resolusi Tahun 2018 adalah melanjutkan Resolusi Tahun 2017 yang belum tercapai akibat dari Resolusi Tahun 2016 yang gagal dikarenakan resolusi-resolusi tahun sebelumnya berantakan karena tidak dikejar dengan sungguh-sungguh.“

Lalu siklus resolusi pun berulang dikarenakan mimpi-mimpi yang masih bertebaran bagai daun-daun kecoklatan, yang jatuh berguguran di musim kemarau lalu tertiup angin kering. Berserakan. Harus dijumputi satu-satu, atau pakai serokan (pengki) agar mudah mengumpulkannya kembali.

Setelah dikumpulkan, seperti pengolahan sampah alami, biarkan saja guguran daun mimpi itu berubah menjadi humus atau diolah sebagai sampah organik untuk menjadi pupuk kompos. Bahan yang nantinya bisa dipakai untuk menyuburkan kembali mimpi-mimpi di musim semi berikutnya. (Ealah kok ke musim-musiman segala sih. Wkwk).

Arif Budiman
Foto Acara Ngobrol Bareng MPR RI | Dokumentasi Pribadi

Nah, mumpung sekarang tanggal 1 (satu) nih, tanggalnya orang-orang suka memulai sesuatu yang baru, membuka lembaran baru. Mumpung baru semingguan kemarin semangat-semangatnya buat ngeblog. Mumpung ini hari libur sampai 3 (tiga) hari. Mumpung kita inget kalau belajar tuh gak boleh patah semangat. Mumpung hidup selalu menyediakan kata-kata bijak yang menenteramkan, “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”

Mari deh memulai lagi. Menantang diri sendiri. Membuat kompetisi mandiri seminggu ke depan. Untuk menulis setiap hari. Jika sukses, buat lagi untuk sebulan ke depan. Tak perlu selalu bagus. Tak perlu selalu menarik perhatian agar dapet like dan komen yang bejibun. Tak perlu selalu penuh makna yang dalam. Cukup aliran kata dari potret-potret sederhana di sekitar.

Pun meski jumlah karakternya sedikit, tak apa. Toh kita sering diingatkan, “Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.” Atau kalimat penyemangat dari para motivator hebat, “Seribu langkah kesuksesan pasti selalu diawali dari satu langkah kecil dari hidupmu.”

Apakah ada yang pernah mengalami hal serupa? Selamat menulis kembali. :)

#nulislagi
#ngebloglagi
#curhatlagi
#semangatlagi
#belajarlagi
#resolusilagi
#7harimenulislagi

Anak-anak Danau Ranau

Anak-anak Danau Ranau | Dokumentasi Pribadi

Untuk kali kedua, menjejakkan kaki di sini, menghirup segar udara pegunungannya, menikmati setiap kelokannya, merasakan keindahan ciptaan-Nya.

Dulu, berkesempatan memotret panorama Danau Ranau dari sisi komplek Wisma Pusri, Sumatera Selatan. Kini, dipilihkan takdir berjumpa dari sisi seberangnya, Lumbok Seminung, Lampung Barat. Lengkaplah sudah. "Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?"

Di sini, setidaknya ada dua pilihan tempat. Rumah makan dengan pemandangan bagan-bagan budi daya air tawar dengan background Danau Ranau dan pegunungannya, atau ke arah Resort Lumbok Seminung yang berjarak beberapa kilo meter lagi. Meski tak sempat melihat Danau Ranau dari pilihan kedua, rasanya sudah cukup dengan menikmati suasana Danau Ranau bersama ikan bakar segar hasil budi daya air tawar danau ini.
Bagan-bagan Ikan di Danau Ranau | Dokumentasi Pribadi

Budi daya Ikan Air Tawar di Danau Ranau | Dokumentasi Pribadi

Yap. Banyak bagan-bagan di sini. Menyaksikan dari dekat nuansa ekonomi masyarakat. Meniti jalan bambu bergoyang yang seolah tak mampu menahan berat saya yang melintas di atasnya, untuk melihat ikan-ikan yang berenang beraturan dari jarak dekat.

Di sela-sela itulah, ada sekumpulan anak-anak yang sedang bermain air bersama. Anak-anak asli kampung sini. Berenang dari pinggiran menuju sebatang bambu yang melintang.

Wajah yang polos, khas anak-anak di desa. Juga sepolos tingkah laku mereka yang tak sungkan bercengkerama tanpa sehelai benang terajut di badannya. Mereka bercanda, berkejaran di air yang jernih, berlomba berenang jarak pendek untuk unjuk kebolehan.

Ah, saya jadi ingat masa kecil. Meski tak mirip sama, kilasan itu membentuk ingatan yang tak jauh berbeda. Masa saat bermain air di bekas galian irigasi yang membentuk danau kecil. Di pelosok kampung yang baru dialiri listrik saat saya berusia kelas 6 SD.

Benak saya langsung berkelebat. Di tempat yang nun jauh dari kota ini, mimpi apa kira-kira yang ada dalam pikiran mereka? Cita-cita apa yang tersemat dalam, di dunia imajinasi mereka yang luas, di kampung yang kecil ini?

Saya menarik benang panjang ingatan masa kecil. Apa dulu yang saya pikirkan, saat masih sebagai anak kecil di kampung, yang mengaji dan belajarnya hanya ditemani lampu teplok atau "sentir" yang berbahan bakar minyak tanah?

Seingat saya cita-cita dulu hanya sebatas apa yang paling banyak dimiliki anak-anak dengan usia yang sama. Ingin jadi dokter, jadi insinyur, jadi polisi, atau ingin jadi pilot.

T-shirt Saat Acara "Ngobrol Bareng MPR RI dengan Netizens Lampung | Dokumentasi Pribadi

Kilasan ini mengingatkan saya pada acara "Ngobrol Bareng MPR RI dengan Netizens Lampung" yang dihadiri langsung Ketua MPR RI kita, Bapak Zulkifli Hasan, lengkapnya Dr. (HC). H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M., atau akrab dipanggil Bang Zul.

Bang Zul, yang juga anak kampung, lahir di di dusun paling ujung di Kabupaten Lampung Selatan. Tepatnya di Desa Pisang. "Jika kalian ke Kalianda, terus sampai ujung. Nah, disituah Desa Pisang'" ujarnya waktu itu. Bapaknya seorang petani. Tapi bapaknya selalu berpesan, agar anaknya sekolah. Sekolah dan sekolah.

Dan begitulah akhirnya pendidikan mengangkat derajat seseorang. Bukan, bukan berarti mereka yang tak sekolah rendah derajatnya. Begitu banyak dari mereka yang tak sekolah memiki derajat tinggi dengan jalannya sendiri.

Tapi sekolah membuat seseorang mengenal ilmu. Mengenal banyak keahlian. Apalagi untuk mereka yang harus merantau nun jauh ke kota, karena di kampungnya tak cukup memadai untuk mengejar pendidikan yang tinggi. Mereka jadi mengenal banyak teman. Mengerti banyak adat istiadat. Bertukar pengalaman. Mengenal dunia yang tak berbatas.

Dengannya banyak hal akan terbuka. Cakrawala berpikir semakin luas. Bertemu hal-hal baru yang selalu berubah setiap harinya. Belajar atas kegagalan, mencoba setiap kesempatan, menikmati proses perjalanan yang panjang dan berliku tajam.

Hingga pada akhirnya, bersua pada kesuksesan masing-masing yang sudah menjadi takdir hidupnya. Menjadi apapun, sebagai apapun, dimanapun. Memberikan manfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain.

Untuk setiap anak-anak negeri ini, yang kelak mewarisi dan menjadi penerus bangsa besar ini. Semoga pendidikan yang baik selalu menjadi hak kalian. Hingga bangsa ini maju dan sejajar dengan bangsa lainnya.

--
Danau Ranau, Seminung Lumbok, Lampung Barat.
24/11/2017

Generasi Zaman Now, Ini Pesan Ketua MPR RI di Acara "Ngobrol Bareng MPR RI dengan Netizens Lampung"


Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan | Dokumentasi @henipuspita29

Hai kids zaman now and zaman old! Apa sih yang biasa kamu lakukan di Minggu malam setiap pekannya? Pasti jawabannya beda-beda. Mungkin ada yang nonton tivi sambil istirahat setelah lelah seharian jalan-jalan, mungkin ada yang ngerjain PR yang belum selesai karena keasyikan nyantai saat week end, atau lagi main game Mobile Legend yang lagi ngetren itu? Hee.

Nah, berbeda dengan pekan-pekan sebelumnya, Minggu malam kemarin (19/11/2017) adalah hari yang spesial untuk netizen Lampung. Apa pasal? Karena hari itu ada acara "Ngobrol Bareng MPR RI dengan Netizens Lampung" bertempat di Swiss-Belhotel pada pukul 18.00 - 21.00 WIB. Ada pesan penting loh yang disampaikan Bapak Ketua MPR RI kita buat generasi zaman now. Simak yuks ceritanya.

Acara ini didahului dengan registrasi peserta, yang digawangi mbak Novi yang unyu. "Ayo taro sini amplopnya, serasa kondangan deh..," ujarnya lucu menyambut kami. Setelah selesai registrasi, memilih tempat duduk yang di-setting round table, kesibukan dilanjutkan dengan sholat maghrib dan makan malam bersama yang telah disiapkan panitia.

Oya, peserta acara ini adalah para netizen Lampung, khususnya yang tergabung dalam komunitas Tapis Blogger. Sebuah komunitas yang concern pada dunia literasi, kepenulisan, blogging, juga aktivitas edukasi.

Tapis Blogger sendiri awalnya hanya berisikan empat emak-emak kece sebagai pendirinya.  Ada Mbak Naqiyyah Syam, Uni Fitri Restiana, Mbak Heni Puspita dan Mbak Izzah Annisa. Meski usianya baru menjejak angka 1 tahun, tapi kiprahnya tak bisa dianggap remeh. Buktinya, MPR RI menggandeng komunitas ini untuk menyelenggarakan acara bergengsi kali ini.

gadget peserta
Peserta Ngobrol Baren MPR RI bersiap dengan gadget-nya | Dokumentasi Pribadi

Selepas makan malam, para peserta mulai bersiap mengikuti acara inti. Gadget -senjata netizen masa kini- yang sudah terisi penuh daya baterainya, telah siap dalam genggaman. Jika diibaratkan pertempuran, maka semua sudah siap dalam posisi siaga tempur. Tinggal menunggu genderang perang ditabuh, masing-masing senapan akan menyalak dan memuntahkan amunisinya ke sasaran.

Acara dimulai dengan apik oleh MC kita yang kali ini dipandu Kak Yandigsa, seorang blogger kawakan asal Kotabumi. Setelah menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya yang dipimpin oleh Mbak Desma Hariyanti dengan penuh hikmat, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ibu Fauziah Ka Biro Humas Setjen MPR RI. Disusul diskusi pengantar yang disampaikan oleh Bapak Ma'ruf Cahyono, Sekjen MPR RI.

Menyanyikan Lagu Indonesia Raya | Dokumentasi @henipuspita29

Acara yang dikemas semi formal ini membuat peserta tak gampang bosan. Apalagi Pak Ma'ruf mengutip sebuah puisi tanpa teks. Wah, keren sekali itu buat saya. Puisi dengan bait-bait yang sarat makna dan pesan kebangsaan. Berikut ini penggalannya,

Masih Indonesiakah kita, setelah sekian banyak jatuh bangun.
Setelah sekian banyak terbentur dan terbentuk.

Masihkah kita meletakkan harapan di atas kekecewaan, persatuan di atas perselisihan.
Musyawarah di atas amanah, kejujuran di atas kepentingan.

Ataukah ke-Indonesiaan kita telah pudar tinggal slogan? Tidak...!!

Karena nilai-nilai itu kita lahirkan kembali,
kita bumikan dan kita bunyikan dalam setiap jiwa dan manusia Indonesia.

Dari Sabang sampai Merauke, kita akan melihat gotong royong dan tolong menolong.
Kesantunan bukan anjuran akan tetapi kebiasaan.

Zulkifli Hasan - Maruf
Ketua dan Sekjen MPR RI | Dokumentasi @henipuspita29

Memasuki acara inti, tatapan mata peserta tak beranjak dari pintu masuk. Sebentar lagi narasumber yang dinanti, Ketua MPR RI akan memasuki ruangan. Dan benar saja, dengan memakai kaos yang sama dengan peserta, Bapak Zulkifli Hasan beserta rombongan hadir di tengah-tengah acara.

"Tabik Puuun..!" Sapa beliau, menggunakan sapaan khas budaya Lampung. "Tabiik Puuunn..!!" Sapanya ulang lebih lantang karena desibel suara sebelumnyanya tertelan keriuhan peserta yang sangat antusias. "Iyaa Puuunn!!!" Jawab peserta kompak kali ini.

Ruangan terasa makin hangat dan bersemangat meski malam semakin larut. Sebagian peserta berdiri dan memenuhi bagian depan ruangan untuk mengambil gambar Bang Zul -sapaan akrab Bapak Zulkifli Hasan- dan rombongan. Setelah suasana kembali normal, Bang Zul mulai menyampaikan paparannya.

Pada bagian awal pemaparan, Bang Zul mengupas tuntas 4 Pilar MPR RI, yang menjadi tema utama Ngobrol Bareng ini. Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Penjelasan yang lugas disertai contoh-contoh kekinian membuat audiens mudah nyambung apa yang diobrolkan. Bahasan berat dikemas dalam bahasa yang mudah dicerna, mengalir dan tidak kaku. Kalimat demi kalimat mengalirkan gagasan kebangsaan dan kecintaan pada Indonesia tercinta.

Bang Zul ini gaul juga loh. Update dengan tren kekinian juga bahasa-bahasa anak muda yang lagi hits. Jelas dong tahu yang hits nomor satu apa! Yap, "kids zaman now." Istilah buat nyebut anak-anak zaman sekarang. Nah, disela sesi tanya jawab itulah, Bang Zul menyampaikan pesan untuk generasi zaman now agar bisa eksis. Apa saja pesannya? Cekidot!

Pertama, mengenal dan mencintai budaya daerah sendiri. Generasi zaman now harus mengerti dan bangga akan daerahnya. Mempromosikan daerahnya. Juga sebagai putra daerah Lampung, harus paham dan mencintai adat istiadat Lampung. Cintailah tanah air Lampung dengan sungguh-sungguh. Harus mau membaca sejarah Lampung.

Kedua, memahami sejarah bangsanya. Bahwa Indonesia merdeka bukan diberi, tapi pengorbanan jiwa, raga, darah dan air mata pendahulu kita. Banyak sekali korban jiwa. Bagaimana Imam Bonjol, Bung Karno, Bung Hatta, Cut Nyak Dien, Malahayati, Hasanudin dan para raja-raja lain bejuang dan berkorban. Kita bersyukur karena kita merdeka dengan perjuangan, bukan pemberian.

Ketiga, nah ini yang penting, agar generasi zaman now punya arah. Harus punya ilmu. Smart, tidak bisa tidak. Masak anak zaman sekarang gak punya ilmu. Dengan ilmu kita bisa memprediksi apa yang akan terjadi 10-20 tahun yang akan datang. Harus cekatan. Tidak bisa malas-malasan.

Apakah cukup? Tidak. Harus punya jaringan yang luas. Bisa dengan memanfaatkan teknologi juga untuk membangun jaringan. Sekarang saja jual tomat sudah pake jaringan, pake teknologi. Jaringan sudah tidak ada batas lagi. Lampung, Jakarta, Jawa, Malaysia, Arab Saudi, Eropa, Amerika atau lainnya.

Nah, jika tiga hal ini di atas sudah dipunyai, nanti akan melahirkan kreativitas. Dari kreativitas itulah akan lahir inovasi. Dan dengannya akan lahir produktivitas yang tinggi. Selanjutnya, dengan produktivitas tinggi itu kita akan punya daya saing. Akhirnya, dengan daya saing  itu, kita bisa menegakkan kepala. Karena kalau tidak, seperti kata Bung Karno, kita bisa jadi kuli di negeri sendiri.

Itulah tiga pesan yang disampaikan Ketua MPR RI kita, Bapak Zulkifli Hasan, yang juga asli putra Lampung. Pesan yang sangat mengena untuk generasi zaman now, yang jangan hanya eksis di dunia maya, tapi juga harus eksis di dunia nyata.

Di akhir sesi menutup perbincangannya, beliau juga menitipkan pesan agar putra Lampung tidak minder. "Jangan minder. Tolong disebarkan ke anak-anak Lampung. Putra-putri Lampung ini hebat-hebat," pungkasnya.

Sesi Foto Bersama Ngobrol Bareng MPR RI | Dokumentasi @henipuspita29


Sesi Foto Bersama Ngobrol Bareng MPR RI | Dokumentasi @tapisblogger


tapis blogger
Selfie Bareng Ketua MPR RI | Dokumentasi @henipuspita29

Akhirnya, seluruh keseruan acara ditutup dengan foto bareng antara Ketua MPR RI, segenap rombongan, panitia dan para netizens Lampung. Wuiihh, senengnya loh bisa foto baren Pak Zulkifli Hasan ini. Sebagian peserta juga memanfaatkan momen langka ini untuk selfie-wefie-groufie. "Ya Allah bisa foto bareng Ketua MPR nih..," ujar seorang peserta dengan wajah sumringah. Termasuk saya juga sih.. Hee :')