Langsung ke konten utama

Catatan Aksi 112 (Bagian Dua) : Pagi, Hujan dan Sekotak Nasi


Alhamdulillah, perjalanan dari Bandarlampung menuju Jakarta berjalan lancar. Hingga ketika memasuki sekitaran Monas, laju bus mulai melambat. Jalur kendaraan padat dan rekayasa lalu lintas sudah diberlakukan. Bus yang kami naiki susah untuk masuk ke stasiun Gambir. Hingga akhirnya para penumpang memutuskan untuk turun di daerah dekat stasiun saja.

Pukul 05.15 WIB, kami ikut turun sebagaimana penumpang lainnya. Ingin menuju ke masjid di area Gambir tapi cukup jauh. Lalu menanyakan masjid terdekat kepada seorang aparat berseragam TNI yang tampaknya sedang bertugas. "Di masjid PLN saja, Pak. Di sana juga disediakan logistik," sambil diarahkan dengan ramah oleh si Bapak.

Kami mengikuti petunjuk yang  beliau berikan hingga sampailah di sebuah masjid yang nyaman. Masjid di komplek perkantoran PLN ternyata. Kami melangkah ke dalam, mencari tempat wudhu lalu melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Ternyata sudah banyak rombongan dari berbagai daerah di Jabodetabek yang lebih dahulu transit di sana. Sebagian besar dari mereka sudah selesai shalat dan sedang melaksanakan zikir pagi atau membaca Al Quran.

Selesai shalat Subuh, kami berkumpul berlima (dua orang teman baru bertemu di dalam bus yang sama), duduk di bagian belakang masjid, di mana jamaah yang tadi sudah hadir sedang sarapan dari logistik yang sudah disediakan. Kami rehat bersama dan Alhamdulillah, lima kotak nasi sudah tersedia dari seorang teman yang telah mengambilkannya.

Wah, ini takjub saya yang pertama di pagi itu. Cerita-cerita berlimpahnya makanan di aksi 212 sebelumnya memang cerita nyata. Entah dari mana dan siapa saja. Begitu banyak tangan-tangan yang bermurah hati. Berlomba menginfakkan apa yang bisa mereka berikan.

Nasi kotak itu kami buka satu-satu. Wah, ini bukan logistik pagi yang ala kadarnya. Ini benar-benar dipersiapkan untuk menjamu para tamu. Entah siapa yang menjadi donatur, kami benar-benar bersyukur dan berterima kasih.

Nasi kotak itu diisi tiga lauk; udang, daging dan ayam. Nasi putihnya terbungkus rapi dalam bungkusan daun pisang yang hijau segar. Ditambah sayur tahu campur toge, kerupuk udang dan sambal sachet sebagai tambahan. Terpenuhi sudah rasa lapar ini mendapatkan jamuan yang sangat lengkap.

Terlebih, ini bukan hanya sekotak nasi. Ini adalah jamuan persaudaraan yang tak ternilai. Ada yang memberi tanpa tahu siapa yang akan menerima. Ada yang menerima tanpa tahu siapa yang memberi. Mungkin mereka hanya diperjumpakan dalam lantunan doa yang sama. Saat dua orang saling mendoakan kebaikan bagi saudaranya, tanpa sepengetahuan dirinya.

Kami menikmati kotak nasi itu sembari bercerita dan diselingi diskusi pagi yang hangat. Cuaca di luar yang bermendung tebal mulai menurunkan hujan dalam interval yang berulang. Hujan, reda, hujan, reda. Seterusnya hingga beberapa kali berulang.

Ah, hujan.
Kamu tahu apa yang dirindukan dari hujan?
Saat dimana derasnya keberkahan langit diturunkan ke bumi,
juga disaat yang sama, doa-doa terlantunkan dari bumi dan teristijabahkan di langit.

Maka saya penggalkan dalam tengadah tangan,
Allahumma shoyyiban naafi’a..
Ya Allah, jadikanlah hujan ini, hujan yang bermanfaat..


Seusai menunaikan persiapan, kami bergegas menuju masjid Istiqlal. Mengecek barang bawaan agar tak ada yang tertinggal. Sebagian rombongan yang lain sudah berangkat. Tapi rombongan lainnya terus berdatangan. Beberapa yang saya jumpai berasal dari Depok dan Cimahi.

Akhirnya kaki ini melangkah meninggalkan masjid. Mennggendong masing-masing tas di pundak. Menikmati masing-masing makna yang menyeruak. Pagi yang dingin, hangat dalam selimut persaudaraan. Menuliskan lembaran mimpi-mimpi di musim semi, melangitkan doa-doa bercahaya di waktu dhuha.

Tak seberapa jauh, hujan kembali jatuh. Dalam deras yang menjadikan awning tempat saya berteduh ini menjadi tempias, saya saksikan di jalanan, barisan-barisan yang memanjang itu tetap melangkah tegap. Basah rasanya hati ini. Maka kukutipkan catatan seorang teman untuk menutup bagian ini,

"Hujan tidak menghalangi, dia hanya membasahi.."

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis..Yuuukk!!!

Entah kali keberapa saya berpikir. Mengapa perlu menulis. Pentingkah menulis. Apa manfaatnya. Kadang, susah menjawab pertanyaan sendiri. Tapi mungkin bisa dibantu dengan jawaban orang lain. Dari apa yang saya dengar atau baca.
Sebagian orang bilang. Menulis bukan saja aktivitas merangkai kata menjadi kumpulan kalimat. Hingga kemudian bisa dibaca. Bagi sebagian orang, menulis adalah cara berdialog dengan diri. Menemukan sisi hati yang kadang berbeda.
Sebagian menjadikan tulisan sebagai pelepas beban hidup. Seperti menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan kuat-kuat. Ada kelegaan yang luas di rongga dada ini.
Sebagiannya lagi bilang, menulis adalah cara untuk bercerita. Menumpahkan kesah, menuangkan sedih bahkan menumpahkan air mata. Dan mereka bilang, dengan itu aku mengerti tentang hidupku sendiri.
Sebagian yang lain mengatakan, menulis untuk menyampaikan gagasan, ide, tentang tema-tema yang bermanfaat bagi kemajuan bersama.
Sebagian bilang menulis adalah cara mewariskan sejarah. K…

Berburu Seru di Taman Kupu-kupu

Di hari Kamis, tepat di libur Hari Raya Waisak pekan kemarin, kami menjadwalkan untuk berkumpul. Atas usul rekan kami, Heny Dwi Sari, kami sepakat untuk mengunjungi Taman Kupu-Kupu Gita Persada. Sebuah kawasan konservasi kupu-kupu yang berlokasi di daerah Kemiling. Taman ini sendiri digagas oleh pasangan Ir. Anshori Djausal, M.T., sosok arsitek, dosen, seniman, juga pemerhati lingkungan, dan Dr. Herawati Soekardi, seorang ahli Biologi yang meraih gelar doktor dari Institut Teknologi Bandung. Nama "Gita" yang disematkan pada nama taman ini sendiri berasal dari nama anak ke-3-nya, Gita Paramita Djausal, yang kini menjadi dosen di jurusan Hubungan Internasional Universitas Lampung. 
Perjalanan kami diawali dengan berkendara motor dari rumah masing-masing. Berkumpul di rumah Heny, lalu menuju lokasi. Untuk mencapai taman ini tidak terlalu sulit rasanya. Karena jalan yang menuju tempatnya tidak banyak percabangan. Bisa melalui arah Telukbetung melewati area Wira Garden atau dari…

Di Balik 410

Pembuka Nilai 410, dalam tes CPNS, adalah sesuatu yang sangat luar biasa buat saya. Malah bisa dibilang keajaiban. Sebuah mukjizat, dalam arti sederhananya.
Dan jujur, saya sendiri tidak pernah membayangkan bisa mendapatkan nilai sebesar itu. Karena saat mendengar teman-teman ada yang mendapat nilai 370-an saja saya sudah merinding, "Wah, gede banget ya..", batin saya.
** Sebenernya, entah kali ke berapa, saya menolak secara halus permintaan keluarga untuk mendaftar tes CPNS. Permintaan yang seringkali membuat saya bersitegang dengan pendirian, bekerja tak harus menjadi PNS, kan?
Secara pribadi, saya berpendapat bekerja bisa dimana saja, asalkan baik dan bermafaat untuk banyak orang. Salah satu alasan yang membuat saya begitu nyaman bekerja di lembaga pendidikan non-formal, sebuah Bimbingan Belajar.
Di antara teman-teman lainnya, mungkin saya juga yang paling kalem saat hampir setiap tahunnya heboh tes CPNS. Tapi, untuk kali ini, saya tak kuasa lagi menolak.
Diawali cerita kakak…