Langsung ke konten utama

Catatan Aksi 112 (Bagian Satu) : Tiket Dadakan!



Hari ini temanya belajar. Belajar menangkap peluang kebaikan. Menjawab kesempatan dadakan yang Allah berikan dengan berpikir cepat. Ambil atau tinggalkan. 

Flash back sebentar. Melihat aksi 411 (Aksi Bela Islam II) sebelumnya, saya begitu bergemuruh. Melihat saudara-saudara seiman yang tergores hatinya oleh kata-kata yang tak pantas terucap dari seorang pejabat publik, bergerak hingga jauh-jauh melangkahkan kaki menuju ibu kota. Berharap untuk hadir, tapi kesempatan itu belum ada. 

Harap-harap cemas mengikuti perjalanam aksi itu melalui media dan layar kaca. Aksi berjalan damai, santun juga teratur. Hingga perusuh datang di malam yang gelap. Tapi Alhamdulillah, kita tahu setelahmya siapa perusuh itu. 

Puncaknya di aksi 212, keinginan itu belum juga terpenuhi. Maklum, saya abdi negara yang punya jam kerja di hari Senin s.d. Jumat sehingga tak ingin memaksakan diri. Walau iri, tetap saja berbangga dengan perjuangan jutaan saudara muslim yang merelakan banyak hal untuk hadir di sana. 

Uang, waktu, tenaga, diperiksa dibanyak titik, menahan emosi karwna kendaraan sewaan yang mendadak membatalkan diri hingga meninggalkan keluarga. Saya hanya berkesempatan menitip doa dan sedikit rupiah lewat teman yang berangkat ke sana. 

Dan hari ini kesempatan itu datang. Hari Sabtu, bukan hari kerja. Tapi saya seperti terlupakan untuk berangkat, karena kondisinya lebih senyap dari dua aksi terakhir. Tidak sehiruk pikuk sebelumnya. Mungkin gak perlu rame-rame amat, biar gak banyak diperiksa petugas keamanan di jalan.

Saya jadi terlupa kalo ingin berangkat. Atau niat yang mungkin belum kuat. Tapi Allah berkehendak lain. Kesempatan itu datang di last minute melalui tiket bus yang tak jadi dipakai. Singkatnya, seorang kakak alumni berkirim kabar di sebuah grup perpesanan. 

"Saya sudah beli 3 tiket. Satu membatalkan diri. Sayang banget nih kalau tidak terpakai." Itu pas banget sesaat menjelang maghrib.

Saya belum memutuskan. Ragu membayang. Saya yang terbiasa berpikir lambat alias banyak pertimbangan memang tidak terbiasa memutuskan sesuatu dengan cepat. Apalagi ini perjalanan cukup jauh. Tapi rasanya ini adalah kesempatan terbaik hari ini. Saat Allah menghadirkan kesempatan yang mungkin takkan terulang kedua kalinya. 

Selepas shalat maghrib, hati ini belum mantap juga. Saya juga tidak tahu apakah tawaran tiket itu masih berlaku atau tidak. Mungkin saja sudah diambil oleh orang lain. Dan pastinya akan menyisakan sesal. Sesal karena lagi-lagi lambat dalam mengambil keputusan juga sesal karena terlambat dalam mengambil momen kebaikan ini.

Pukul 19.15 WIB, saya meyakinkan diri. Bismillah. Jika memang masih rezeki insya Allah akan saya ambil kesempatan ini. Maka saya tanyakan apakah tiket itu masih tersedia. Dan diluar dugaan dijawab masih ada. 

Akhirnya setelah memastikan untuk ikut berangkat ke Jakarta, saya meminta izin ke orang tua. Alhamdulillah langsung diberikan izin dan diminta untuk berhati-hati. Pukul 20.15, selepas Isya, saya berangkat dari rumah menuju stasiun Damri untuk bertemu dan berangkat ke Jakarta malam ini. 

Ini tentang rasa keberagamaan yang terusik. Tantang hati umat yang terkoyak. Tentang fatwa ulama yang telah menyatakan bahwa perilaku beliau adalah sebuah penistaan terhadap agama dan ulama. Bahwa perbuatan itu harus dipertanggungjawabkan. Bahwa rasa keadilan itu harus diberikan dengan seadil-adilnya. 

Dan disinilah sekarang kami, Aksi Bela Islam 4, Aksi 112, di masjid Istiqlal, dengan ragam acara tausyiah dan zikir nasional. Semoga Allah memberikan ketenangan kepada bangsa ini. Diperkuatnya ukhuwah Islamiyah serta kesadaran dalam beragama yang baik. Serta terjaga lnya keutuhan NKRI dan keberagaman yang satu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berburu Seru di Taman Kupu-kupu

Di hari Kamis, tepat di libur Hari Raya Waisak pekan kemarin, kami menjadwalkan untuk berkumpul. Atas usul rekan kami, Heny Dwi Sari, kami sepakat untuk mengunjungi Taman Kupu-Kupu Gita Persada. Sebuah kawasan konservasi kupu-kupu yang berlokasi di daerah Kemiling. Taman ini sendiri digagas oleh pasangan Ir. Anshori Djausal, M.T., sosok arsitek, dosen, seniman, juga pemerhati lingkungan, dan Dr. Herawati Soekardi, seorang ahli Biologi yang meraih gelar doktor dari Institut Teknologi Bandung. Nama "Gita" yang disematkan pada nama taman ini sendiri berasal dari nama anak ke-3-nya, Gita Paramita Djausal, yang kini menjadi dosen di jurusan Hubungan Internasional Universitas Lampung. 
Perjalanan kami diawali dengan berkendara motor dari rumah masing-masing. Berkumpul di rumah Heny, lalu menuju lokasi. Untuk mencapai taman ini tidak terlalu sulit rasanya. Karena jalan yang menuju tempatnya tidak banyak percabangan. Bisa melalui arah Telukbetung melewati area Wira Garden atau dari…

Menulis..Yuuukk!!!

Entah kali keberapa saya berpikir. Mengapa perlu menulis. Pentingkah menulis. Apa manfaatnya. Kadang, susah menjawab pertanyaan sendiri. Tapi mungkin bisa dibantu dengan jawaban orang lain. Dari apa yang saya dengar atau baca.
Sebagian orang bilang. Menulis bukan saja aktivitas merangkai kata menjadi kumpulan kalimat. Hingga kemudian bisa dibaca. Bagi sebagian orang, menulis adalah cara berdialog dengan diri. Menemukan sisi hati yang kadang berbeda.
Sebagian menjadikan tulisan sebagai pelepas beban hidup. Seperti menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan kuat-kuat. Ada kelegaan yang luas di rongga dada ini.
Sebagiannya lagi bilang, menulis adalah cara untuk bercerita. Menumpahkan kesah, menuangkan sedih bahkan menumpahkan air mata. Dan mereka bilang, dengan itu aku mengerti tentang hidupku sendiri.
Sebagian yang lain mengatakan, menulis untuk menyampaikan gagasan, ide, tentang tema-tema yang bermanfaat bagi kemajuan bersama.
Sebagian bilang menulis adalah cara mewariskan sejarah. K…

Di Balik 410

Pembuka Nilai 410, dalam tes CPNS, adalah sesuatu yang sangat luar biasa buat saya. Malah bisa dibilang keajaiban. Sebuah mukjizat, dalam arti sederhananya.
Dan jujur, saya sendiri tidak pernah membayangkan bisa mendapatkan nilai sebesar itu. Karena saat mendengar teman-teman ada yang mendapat nilai 370-an saja saya sudah merinding, "Wah, gede banget ya..", batin saya.
** Sebenernya, entah kali ke berapa, saya menolak secara halus permintaan keluarga untuk mendaftar tes CPNS. Permintaan yang seringkali membuat saya bersitegang dengan pendirian, bekerja tak harus menjadi PNS, kan?
Secara pribadi, saya berpendapat bekerja bisa dimana saja, asalkan baik dan bermafaat untuk banyak orang. Salah satu alasan yang membuat saya begitu nyaman bekerja di lembaga pendidikan non-formal, sebuah Bimbingan Belajar.
Di antara teman-teman lainnya, mungkin saya juga yang paling kalem saat hampir setiap tahunnya heboh tes CPNS. Tapi, untuk kali ini, saya tak kuasa lagi menolak.
Diawali cerita kakak…