Catatan Aksi 112 (Bagian Tiga --Habis): Uluran Tangan-tangan Kebaikan di Sepanjang Jalan


Perjalanan pagi itu dimulai. Selepas hujan deras yang membasahi bumi Jakarta, kami berlima meninggalkan masjid Nurul Falah di komplek PLN itu. Beriringan satu-satu melintas di bawah awning yang berdiri sepanjang gerbang hingga mendekati masjid. Menuju jalan raya untuk bergabung bersama rombongan lain yang nampak di kejauhan.

Rombongan demi rombongan peserta aksi mengular di jalanan. Mayoritas berpakaian putih-hitam. Membawa spanduk, mengibarkan bendera, melantunkan shalawat, hingga mengomandokan takbir yang menggema. Dan baru saja keluar dari gerbang komplek PLN itu, saya sudah menjumpai momen yang sebelumnya hanya cerita dari teman-teman yang hadir di aksi 212. Nyata di depan mata.

Seorang laki-laki berdiri dengan jas hujannya yang berwarna hijau. Membawa sekotak roti di tangannya yang terbuka. Senyumnya segar dihias rintik air yang membasahi wajahnya. Diambilnya roti-roti itu untuk diberikan kepada peserta aksi yang lewat.

Ah, ternyata bukan dia saja. Beberapa laki-laki lain berdiri di sekitarnya. Menawarkan roti yang sama, juga air mineral yang dibawa rekannya yang lain. Saya tak henti mengambil gambar dari suguhan menakjubkan ini. Sungguh, saya girang sekali. Seperti anak kecil yang berlarian. Jepret sana-sini.

Kaki ini melanjutkan langkahnya. Jalanan sudah sangat padat. Barisan peserta aksi memenuhi hampir seluruh badan jalan. Sepanjang mata memandang ke arah depan dan belakang. Kendaraan yang melintas harus dibantu satgas yang berjaga untuk keluar dari lautan massa itu. Cuaca dingin. Mendung tebal masih membayang di atas sana. Tapi tidak dengan semangat ini. Semangat pembelaan atas agama dan ulama yang dinistakan.

Deras kembali turun. Tepat sesaat kami memakai mantel hujan yang dibelikan seorang teman. Mantel warna hijau dan merah. Tak lama, deras mereda berganti gerimis di sepanjang jalan. Rintik yang menyapa lembut wajah pada setiap tetesnya. Menyegarkan. Dan luar biasanya, hampir tak ada peserta aksi yang meneduh. Semua tetap berjalan ke satu tujuan. Masjid Istiqlal.

Di potongan kebaikan selanjutnya, nampak keluarga kecil yang teridiri dari seorang Ibu, dua remaja perempuan dan satu anak laki-laki sedang membagikan air mineral. Pakaian yang dikenakannya dominan hitam. Keempatnya tampak riang dan sumringah. Tangan mereka cekatan mengambil air mineral di dalam dus.

"Mari Pak, diambil airnya. Buat bekal di jalan," tawaran yang ramah itu diujarkan berulang kepada setiap peserta yang berjalan kaki. Saya memilih sibuk mengambil gambar. Mengabadikan cerita dalam ingatan. Menyunggingkan senyum yang tak tertahan.

Di banyak tempat pun sama. Ada yang menghidangkan gorengan, menyiapkan kopi hangat, lontong sayur untuk sarapan dan lainnya. Seorang Ibu terlihat memborong tahu goreng yang dijual di salah satu tempat. Sembari terus mempersilakan siapa saja yang mau membungkus. "Diambil aja, Pak. Nanti semua saya yang bayar. Silakan. Silakan".

Tangan-tangan kebaikan yang terulur begitu saja di sepanjang jalan menuju Istiqlal ini sungguh memesona. Mereka hadir di sini bukan hanya tidak dibayar, tapi justru berusaha semaksimal mungkin memberi apa yang mereka miliki. Nadi persaudaraan terasa berdenyut kencang. Mengalirkan perasaan syukur yang tak henti ke dalam hati.

Kebaikannnya sederhana. Simpel. 'Hanya' membagikan air mineral. Atau makanan kecil. Semua orang mungkin bisa. Tapi sungguh terasa begitu bermakna. Begitu dalam. Begitu menggerakkan.

Seorang teman pernah menulis,
"Mungkin wajar kalau di setiap aksi selalu banyak makanan dan minuman yang tersedia. Tak habis-habis. Bahkan banyak yang menolak mengambil. Bukan. Bukan karena tak butuh atau tak ingin untuk sekedar menghormati yang memberi. Tapi karena muatan di tas sudah cukup bahkan berlebih saking banyaknya yang memberi. Ya, mungkin wajar. Karena arti dari Al-Maidah (surat dalam Al-Quran yang dinistakan) itu sendiri adalah jamuan atau hidangan."

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 komentar

komentar
20 May 2017 at 06:44 delete

Masya Allah, bergetar baca ini, makasih ceritanya Bang Arif.

Reply
avatar
21 May 2017 at 14:40 delete

Wah, Alhamdulillah. Senengnya tulisan saya dibaca dan dikomentari sosok seperti mbak Naqi. Terima kasih banyak, Mbak. Semoga bisa banyak belajar dari mbak Naqi.

Reply
avatar