Dunia Jelita Para Balita


Ini catatan sederhana. Ungkapan kekaguman saya setiap melihat wajah anak-anak (balita). Asik menyaksikan polah-polah lucunya. Tersenyum dengan tingkahnya yang jenaka. Juga kadang 'jengkel' saat mereka begitu ngeyel. Tidak, saya tidak pernah jengkel kepada anak-anak dalam makna sesungguhnya. 

Apapun itu, melihat dunia para balita ini sungguh ajaib. Memesona. Saya bilang, dunia jelita. Ada kepolosan. Ada wajah tanpa dosa. Kata-kata alami begitu jujur yang keluar dari lisannya. Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang malah membingungkan untuk dijawab orang dewasa. 

Pernah juga mendapat reaksi spontan mereka saat berdekatan; lucu, mengagetkan, dan membuat malu,

"Iih, Oom bau, belom mandi yaa?!" >.<

Wajah-wajah ini pemilik kejujuran sejati. Cermin yang tak pernah berbohong. Refleksi banyak hal dari orang dewasa. Pemilik rekam ingatan yang sangat baik. Semisal saat dia mencela, pasti ada yang sengaja atau tidak sengaja mengajarinya.

Mereka juga pembelajar cepat yang tak gampang menyerah. Semisal saat belajar sepeda. Meski terkadang berdarah-darah dan bajunya basah oleh keringat, mereka tak akan berhenti sebelum bisa mengendarai. Mencoba dan terus mencoba. 

Tapi di antara semua itu, satu kekaguman saya yang paling besar adalah saat menatap matanya. Mata-mata yang bening, jernih, tanpa noda, tanpa keruh. Dan yang paling menakjubkan, mata yang selalu menyimpan kisah masa depan di dalamnya.

--

Ini kisah sederhana, ketika saya menemani sebentar keponakan bermain. Saat itu Mbah Uti dan Kakung-nya sedang ikut yasinan ke rumah tetangga. 

Aneka maenan ala kadarnya berserak di atas kasur kapuk bersprei motif bunga-bunga itu. Pena, pensil, boneka Frozen, sisir kecil, robekan kertas, juga alat gambar sederhana. Di antara sekian banyak serakan itu, ada gambar tangan di lembar kertas buku tulis bergaris. 

Saya bertanya, "Ini siapa yang gambar?"

"Akulah, Om. Tapi warnainnya diajarin ama Mbah Utiii," suara lucunya menjelaskan. Gemas saya cubit kecil pipi dan hidung mungilnya. 

"Ah, bagus banget!" Saya refleks memuji, sambil menatap dalam gambar sederhana khas anak-anak itu. Mencoba mengamati lebih dekat. Mengeja tulisan yang ada di setiap bawah gambar.

Ada tiga gambar di bagian atas, dan tiga gambar di bawahnya. Saya lanjut bertanya,

"Ini gambar siapa?"

"Ini ummi, Oom. Aku tahu ummi itu rambutnya gini," sembari membuat gerakan seperti yang ada di gambar. Lucu. Di atas rambut juga ada semacam goresan yang saya artikan dengan bentuk jilbab. 

"Kalau ini gambar ayah, Om. Aku tahu, ayah sukanya warna kuning ama item," si kecil ini lanjut bercerita dengan ceria. Hmm, tau banget sih sama ummi dan ayahnya.

"Nah Om, kalau ini aku." Saya perhatikan gambar anak gadis lucu di kertas itu. Dia nyengir. Saya tertawa. Sambil membayangkan karakter asli keponakan yang ceriwis dan aktif ini.

Dan yang lebih mengharukan adalah kata-kata yang selalu dituliskan berulang di bawah setiap gambar. Kata-kata yang terdiri dari empat kata bersambung; Aku--Umi--Ayah--Sayang. Selalu terangkai empat kata itu. 

Jujur, saya menahan haru. Tatapan saya membayang. Ada bening yang membentuk bulatan, melinang tertahan. Garis bibir ini melengkungkan senyum. Kamu bercerita dan mengajarkan banyak hal hari ini, Nak.

Saya usap pelan kepalanya, sembari mengacak lembut rambutnya yang bergelombang. Dia sibuk memainkan ujung pensilnya ke lembaran kertas yang lain. Tangan kecil satunya menopang dagu. 

"Oom nih ngapa sih kok senyum-senyum terus ngeliatin gambar aku?" Dengan tiba-tiba membalikkan wajah. Haha.. dia menangkap basah Oom-nya yang mendadak hatinya juga basah. Terenyuh yang datang tanpa diundang, lumer yang tanpa perlu dipanaskan. "Gak apa-apa lho," saya ngeles. Maklum, guru les, hhe. 

Besoknya, saya menyelinap senyap ke kamarnya dengan misi meminjam sebentar karya spketakulernya ini. Harus difoto nih, pikir saya. Lalu diam-diam saya bawa gambarnya ke halaman samping rumah agar mendapat cukup cahaya untuk difoto sehingga hasilnya bagus. 


Anak-anak adalah cermin bagi orang tua. Perilakunya yang gemar meniru, menjadikan orang tua sosok pertama yang akan diikutinya. Begitu pula anggota keluarga lain, juga lingkungan sekitar yang kerap dekat dengan anak-anak.

Seringkali anak-anak pulang membawa kosakata atau perilaku kasar. Sesuatu yang mungkin tak pernah ia dapatkan di rumah, tapi direkam dalam memeori dari perilaku tetangga, teman sepermainan atau saat di sekolah.

Anak-anak adalah tempat melukis masa depan. Saat perlahan hidup berjalan seolah tak terasa, maka lukislah masa depan yang indah pada kanvas kehidupan mereka. Hingga saat kita tiada, mereka mampu menjadi lukisan indah yang tak mudah pudar saat bersentuhan dengan ragam goresan warna-warni dunia yang menggoda.

Anak-anak adalah tempat menanam kebajikan. Sejak awal proses 'pembuatannya', dalam kandungan, merawat saat balita, menjaga pertumbuhannya, mengajar-mendidik-mendampingi saat remaja hingga dewasa. 

Hingga kelak, kebajikan akan berbuah kebajikan yang tak pernah hilang. Terus berpadu pada ikatan abadi antara anak dan orang tuanya. Dalam perkara yang takkan terputus pahala kebaikannya, doa anak shalih kepada kedua orang tuanya.

Semoga sehat dan cerdas selalu, Ananda shalihah, Latifa Khairunisa.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »