Skip to main content

Memilih Menjadi Abdi Negara

Teman-teman Seperjuangan Angkatan 2014
Memilih Menjadi Abdi NegaraKami, lulusan Tes CPNS untuk pemerintah daerah tahun 2014, adalah angkatan terakhir sebelum moratorium penerimaan PNS diberlakukan. Sudah hampir 4 tahun sebelum akhirnya beredar informasi bahwa akan dibuka kembali rekrutmen Tes CPNS pada bulan Februari atau Maret 2018.

Rasanya sudah rindu untuk punya "adik kelas" di kantor. Begitu jika sedang punya waktu senggang dan mengontrol santai dengan teman-teman satu angkatan. Karena sampai sekarang, kami ini yang paling muda. Junior dari sisi usia menjadi seorang abdi negara. Gak enak kelamaan jadi anak bungsu.

Oya, sebelumnya, bulan-bulan akhir 2017 kemarin, sudah dibuka untuk penerimaan CPNS kementerian. Informasinya, akan dibuka ratusan ribu kursi untuk tahun ini. Mayoritas diperuntukkan bagi CPNS Daerah, dan lainnya CPNS kementerian. Semoga segera terlaksana, karena itu berarti kami akan segera punya "adik".

Bagi masyarakat luas, menjadi PNS menjadi salah satu profesi yang dianggap prestise. Bahkan di sebagian daerah, belum dianggap bekerja jika belum menjadi PNS. Ya, meski tak semuanya berpandangan seperti ini. Karena banyak profesi yang bisa menjadi alternatif tentunya.

Namun, jika melihat antusiasme pendaftar pada tes CPNS 2017 yang lalu, kita bisa melihat bahwa profesi ini masih menjadi magnet tersendiri. Tentu beragam alasan bisa dikemukakan, mengapa jalur pendaftaran Tes CPNS terus berjubel setiap dibuka formasinya oleh pemerintah.

Dulu, menjadi PNS bukanlah sebuah cita-cita buat saya. Bekerja bisa dimanapun. Asalkan bisa berkarya dan bermanfaat untuk orang lain. Jadi berkali-kali ada peluang daftar, ya saya cuek saja. Tapi, semua berubah setelah Negara Api menyerang. Eh, becanda kok.

Setelah diminta dengan sangat oleh orang tua untuk mendaftar, akhirnya ego untuk bertahan dengan pandangan sendiri mulai dikompromikan. Membuat lintasan baru, agar punya lintasan keinginan yang sama dengan orang tua dan keluarga. Akhirnya, petualangan baru pun dimulai. Dan sekarang, di sinilah saya. Berdiri sebagai salah satu abdi negara. Hehe.

Jika menilik obrolan dengan teman-teman satu angkatan, alasan untuk menjadi PNS (atau sekarang disebut ASN) ternyata berbeda-beda. Ada yang sama dengan saya, ingin memenuhi keinginan orang tua, memang bercita-cita jadi PNS, ingin dekat dengan keluarga (banyak yang sudah bekerja di tempat bonafit tetapi memilih pulang kampung), ingin pekerjaan yang tenang dan lebih santai (banyak teman-teman sudah bekerja di perusahaan swasta dengan gaji yang jauh lebih besar, tapi dengan tekanan kerja yang sangat tinggi), tidak dibawah tekanan, mencari tantangan baru, atau yang lainnya.


Saya teringat sebuah hadis Nabi. “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. Jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” 

Apa yang kita bayangkan jika memiliki perusahaan dengan jumlah pegawai sebanyak 4,37 juta orang. Dengan anggaran di perusahan itu mencapai 2.220 Triliun. Belum ditambah dengan aset fisik dan non fisik serta luas perusahaan yang mencapai 5.180.053 km2. Ya, itulah Indonesia. Negara tempat kita lahir dan dibesarkan. Tempat kita menyandarkan kebanggaan sebagai sebuah bangsa.

Lalu apa kaitannya dengan hadist Nabi di atas? Tak lain adalah, bahwa kita memiliki peran yang sangat vital dalam menentukan baik buruknya bangsa besar ini. Kita ibarat jantung yang ada di dalam tubuh Indonesia. Dan kususnya, saya dekatkan pada profesi abdi negara, yang tak lain adalah pelaksana langsung dari roda pemerintahan ini.

Oleh karenanya, meski dahulu mungkin tidak semua di antara kami memilih profesi ini dengan alasan benar-benar ingin menjadi abdi negara, tetapi sudah selayaknya cara berpikir itu perlahan berubah. Bahkan ditengah kondisi yang tidak selalu ideal saat bekerja sebagai abdi negara itu sendiri. 

Tentu semua kita menginginkan sebuah pemerintahan yang baik dan berdaya juang tinggi. Sehingga bisa melahirkan program-program nyata yang berkualitas dan memiliki dampak signifikan terhadap kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyatnya. Siapakah yang tidak ingin pelayanan kesehatan yang baik yang selama ini sering dikeluhkan oleh banyak masyarakat? 

Siapakah yang tidak ingin jalan-jalan baik di kota maupun di desa bisa dilalui dengan mulus, lengkap dengan rambu lalu lintas dan penerangannya? Siapakah yang tidak ingin anak-anak negeri ini mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas di setiap jenjangnya hingga mampu melahirkan lululus yang berkualitas dan berdaya saing? 

Siapakah yang tidak ingin setiap anak-anak bangsa lulusan dari berbagai jenjang pendidikan mendapatkan pekerjaan yang layak dan mampu menjadi kebanggaan dengan karya-karya terbaiknya? Siapakah yang tidak ingin masyarakat negeri ini makmur dan sejahtera serta bisa dengan mudah mendapatkan layanan akses publik yang baik?

Saya yakin, tentunya itu menjadi keinginan kita semua. Dan itulah dalam perumpaan yang saya ambil dari hadis Nabi di atas, tentang "baik atau rusaknya seluruh tubuh," dalam konteks yang lebih luas. Jika dalam hadis Nabi ini ditujukan kepada manusia, saya mengambil permisalan "manusia" disini adalah negara itu sendiri. 

Teringat sebuah kata-kata bijak, "Tugas kita adalah menyalakan lilin, bukan mencela kegelapan." Sebuah kata-kata sarat makna yang seringkali menggambarkan betapa kita jauh lebih sering masuk pada ranah "keluhan" dibandingkan dengan berusaha untuk melakukan satu atau dua usaha perbaikan. 

Kata kuncinya, bukan berarti kita tidak boleh mengeluh, komplain, dan sebagainya. Tapi bagaimana menjadikan potret buruk yang masih nampak di depan mata, dan kita capture sebagai sebuah evaluasi bersama. Lalu bersama juga berusaha untuk saling memperbaiki diri dari hal yang terkecil. Karena perubahan kecil yang dilakukan oleh banyak individu, perlahan tapi pasti akan memberikan dampak perubahan kolektif sehingga menghasilkan gelombang perubahan yang besar. 

Karena kami (atau saya) sekarang sudah berada di sini, maka pertanyaannya bukan lagi mengapa kamu ingin menjadi PNS? Tapi apa yang dilakukan setelah terpilih sebagai abdi negara. Maka, pilihan terbaiknya adalah bagaimana terus meningkatkan kapasitas diri agar bisa meningkatan kapasitas dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai abdi negara. Salah satu profesi yang menjadi jantungnya negeri ini.

Dan mari bersama perlahan membangun negeri yang kita cintai ini. Tanpa peran dari semu komponen bangsa, tentu kita tak akan pernah melihat Indonesia yang mampu terbang tinggi mengangkasa. Semua kita pada hakikatnya adalah abdi negara, dengan profesi apapun atau sebagai apapun. Maka yang terbaik adalah memadukan seluruh potensi yang dimiliki anak negeri. Indonesia membutuhkan kita semua. 


Note:
Sebentar lagi akan ada pembukaan formasi CPNS besar-besaran. Yuk, yang ingin bergabung dalam barisan korps pegawai negeri. Pemerintahan ini membutuhkan SDM berkualitas dan berpotensi seperti kalian. Juga biar kami punya junior yang hebat untuk diajak diskusi dan bekerja. Hee. 

Comments

Popular posts from this blog

Idul Fitri di Masa Pandemi: Sebuah Catatan Menyambut Lebaran Tahun 2020

Idul Fitri di Masa Pandemi: Sebuah Catatan Menyambut Lebaran Tahun 2020

Tentunya akan ada yang berbeda pada Idul Fitri 2020 ini. Tahun ini menjadi tahun yang ditahbiskan penuh dengan perenungan: kehilangan, keikhlasan, kesabaran, dan juga menyisipkan pesan semangat untuk bangkit. Pandemi covid-19 yang mulanya hanya dianggap sebelah mata oleh banyak kalangan, kini menjadi bencana yang telah merengut ratusan ribu jiwa, termasuk di Indonesia.

Kasus corona yang pertama kali diumumkan di awal bulan Maret, kini sudah mencapai lebih dari 20.000 pasien positif dan tak kurang dari 1000 nyawa telah direnggut, termasuk diantaranya para petugas medis. Bencana yang tak kalah menyedihkan adalah mulai hilangnya kepercayaan antar elemen bangsa ini. Tagar #IndonesiaTerserah yang trending beberapa waktu terakhir ini menjadi salah satu pertandanya.

Betapa tidak, di saat sebagian masyarakat menahan diri berbulan lamanya untuk #StayAtHome, shalat Jumat dan Tarawih di rumah, tiba-tiba muncul berbagai gambar d…

Puas Liburan di Malang, Oleh-Oleh Khasnya Jangan Lupa Dibawa

Puas Liburan di Malang, Oleh-Oleh Khasnya Jangan Lupa Dibawa
Nama Malang kini kian ngehits. Bukan hanya sebagai tujuan liburan, tapi banyak juga yang ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang ada di salah satu kota di Jawa Timur. Nggak heran jika kini jadwal pesawat ke Malang terus bertambah. Peningkatan jumlah penerbangan juga membuka kesempatan besar perang harga, yang membuat tiket ke Malang menjadi lebih murah. Apapun tujuanmu, kurang pas rasanya jika pulang tanpa membawa oleh-oleh khas kota Malang yang punya banyak macam!
Malang Strudel Termasuk pioner oleh-oleh artis kekinian, camilan berbahan utama pastry ini dimiliki oleh Teuku Wisnu. Kue berlapis yang berasal dari Austria ini dimodifikasi sedemikia rupa sehingga citarasanya cocok untuk lidah orang Indonesia. Bukan hanya isian apel saja, kini kamu bisa memilih varian lainnya seperti pisang, nanas, cokelat, hingga stroberi. Kemasannya yang praktis dan modern pun nggak akan menyulitkanmu membawa strudel
Baca Juga: Menul…

Generasi Zaman Now, Ini Pesan Ketua MPR RI di Acara "Ngobrol Bareng MPR RI dengan Netizens Lampung"

Hai kids zaman now and zaman old! Apa sih yang biasa kamu lakukan di Minggu malam setiap pekannya? Pasti jawabannya beda-beda. Mungkin ada yang nonton tivi sambil istirahat setelah lelah seharian jalan-jalan, mungkin ada yang ngerjain PR yang belum selesai karena keasyikan nyantai saat week end, atau lagi main game Mobile Legend yang lagi ngetren itu? Hee.
Nah, berbeda dengan pekan-pekan sebelumnya, Minggu malam kemarin (19/11/2017) adalah hari yang spesial untuk netizen Lampung. Apa pasal? Karena hari itu ada acara "Ngobrol Bareng MPR RI dengan Netizens Lampung" bertempat di Swiss-Belhotel pada pukul 18.00 - 21.00 WIB. Ada pesan penting loh yang disampaikan Bapak Ketua MPR RI kita buat generasi zaman now. Simak yuks ceritanya.
Acara ini didahului dengan registrasi peserta, yang digawangi mbak Novi yang unyu. "Ayo taro sini amplopnya, serasa kondangan deh..," ujarnya lucu menyambut kami. Setelah selesai registrasi, memilih tempat duduk yang di-setting round table, k…